BREAKING NEWS

Berita Pilihan

Berita Nasional

Berita Daerah

Jumat, 11 Juli 2014

Untuk Muslim Uighur yang sedang Berjuang

Oleh: Andi Ryansyah, Seorang Muslim WNI Keturunan Tiongkok & Penikmat Sejarah
Pagi ini Selasa 8 Juli 2014/ 11 Ramadhan 1435, mendapat berita Pemerintah Tiongkok memberangus kehidupan beragama Kelompok Muslim Uighur di Xinjiang. Sungguh prihatin membaca berita tersebut. Mulai dari larangan berpuasa bagi anak-anak Uighur, siswa, guru, dan pegawai negeri sipil, larangan shalat tarawih di masjid bagi anak di bawah usia 18 tahun, larangan mengajarkan Al-Qur’an bagi orang tua kepada anaknya, sasaran kebijakan satu anak, tuduhan teroris bagi wanita yang memakai hijab dan bagi pria yang berjenggot hingga Al-Quran dan literatur keagamaan Islam yang dipelajari saja harus mendapatkan persetujuan atau izin negara dan apabila tertangkap memiliki versi lain Al-Quran seperti terjemahan yang berbeda atau kitab dari Arab Saudi atau Pakistan, maka dipenjara.[1]
Membayangkannya saja sudah berat, apalagi bahu yang memikul. Alangkah berat cobaan kelompok ini. Diri ini hanya dapat mendoakan semoga Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, menurunkan hidayah kepada Pemerintah Tiongkok dan memberikan kesabaran serta keistiqamahan kepada kelompok ini.
Dulu umat Islam di Tiongkok ketika dibawah Dinasti Manchu (1644-1911), pernah juga mengalami penindasan agama. Di provinsi Kansu, Pemerintah Kerajaan melarang umat Islam naik haji dan membatalkan izin pembangunan masjid. Akibatnya terjadi perlawanan hebat. Sekitar seribu orang suku Salar melawan pejabat setempat. Perlawanan itu ditumpas oleh tentara Kerajaan. Penumpasan ini berakibat perlawanan selanjutnya yang lebih sengit.
Pada tahun 1862-1876, terjadi pembunuhan massal umat Islam di Desa Tsinkia. Umat Islam dibunuh karena dituduh memotong bambu tanpa seizin pejabat. Akibatnya umat Islam di seluruh distrik memberontak kepada pemerintah. Provinsi Shensi menjadi bergejolak. Tentara Kerajaan berhasil ditaklukan. Sehingga Kaisar Tong Chie memerintahkan pembinasaan total penduduk muslim di Shensi. Akibat keputusan yang kejam ini, umat Islam di Provinsi Kansu melawannya.
Sementara itu tentara Tiongkok yang ditempatkan di Kota Kuchang telah membunuh umat Islam di kota itu dan sekitarnya. Pembunuhan massal telah dilakukan oleh Tentara Kerajaan di beberapa desa dan kota. Berita ini sampai ke telinga tentara umat Islam. Akibatnya sejumlah tiga puluh ribu pasukan umat Islam melawan di Hami dan Urumchi, yang sekarang menjadi Sinkiang. Tentara Kerajaan yang putus asa berhasil dikalahkan.
Jenderal-jenderal Tiongkok semakin ganas dan beringas. Mereka membunuh setiap muslim yang dijumpainya dan menggrebek tiap desa kecil umat Islam yang jatuh di tangan mereka. Namun, kekuatan tentara umat Islam telah membuat Sinkiang menjadi daerah bebas. Tentara umat Islam juga menyerang Kota Sianfu selama tiga tahun antara tahun 1867-1870 meski tidak sampai merebut kota itu.
Umat Islam berhasil mengalahkan sekitar dua ribu serdadu-serdadu Tiongkok di Sinkiang. Umat Islam telah menguasai seluruh daerah utara dan selatan dari pegunungan shan. Gubernur Tiongkok pun sampai bunuh diri karena putus asa tidak mendapat bantuan militer dari ibukota kerajaan.
Sejarawan Chin Yuan menyimpulkan bahwa “Semua pemberontakan umat Islam yang terjadi selama abad yang terakhir ini di bagian utara dan barat Tiongkok adalah akibat langsung tirani dan penindasan Manchu. Umat Islam adalah rakyat yang taat kepada hukum. Apapun alasannya, umat Islam tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas pemberontakan itu.” [2]
Begitu sabar dan istiqamahnya umat Islam saat itu, meskipun mereka mengalami penindasan yang kejam di bawah kekuasaan Manchu, akan tetapi mereka tidak menyerah atau keluar dari agamanya. Padahal mereka sangat menderita, namun tidak mau melepaskan keislaman dan kenasionalisannya.
Sejarah singkat ini setidaknya menjadi teladan bagi Kelompok Muslim Uighur di Xinjiang serta mengingatkan pemerintah Tiongkok yang sekarang bahwa umat Islam tidak akan diam dan tunduk ketika agamanya diberangus.
“Allah lah yang telah mengutus rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar. Agar Islam menjadi agama yang mengalahkan agama-agama lain. Cukup Allah sebagai saksi atas kebenaran Islam” (Al-Fath[48]:28)

Sumber Berita :
[1] http://dunia.news.viva.co.id/news/read/519523–mereka-ingin-menjauhkan-anak-kami-dari-islam-
[2] M. Rafiq Khan diterjemahkan oleh Sulaimansjah S. H., Islam di Tiongkok, Jakarta: Tintamas, 1967, hlm. 12-16

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar anda, kami akan melakukan moderasi sebelum komentar anda ditampilkan

 
Copyright © 2014 Muhammadiyah Demi Ummat
Creatif Design by CahKreatif . Powered by Blogger