![]() |
| Oleh: Andi Ryansyah, Seorang Muslim WNI Keturunan Tiongkok & Penikmat Sejarah |
Pagi ini Selasa 8 Juli 2014/ 11 Ramadhan 1435, mendapat berita
Pemerintah Tiongkok memberangus kehidupan beragama Kelompok Muslim
Uighur di Xinjiang. Sungguh prihatin membaca berita tersebut. Mulai dari
larangan berpuasa bagi anak-anak Uighur, siswa, guru, dan pegawai
negeri sipil, larangan shalat tarawih di masjid bagi anak di bawah usia
18 tahun, larangan mengajarkan Al-Qur’an bagi orang tua kepada anaknya,
sasaran kebijakan satu anak, tuduhan teroris bagi wanita yang memakai
hijab dan bagi pria yang berjenggot hingga Al-Quran dan literatur
keagamaan Islam yang dipelajari saja harus mendapatkan persetujuan atau
izin negara dan apabila tertangkap memiliki versi lain Al-Quran seperti
terjemahan yang berbeda atau kitab dari Arab Saudi atau Pakistan, maka
dipenjara.[1]
Membayangkannya saja sudah berat, apalagi bahu yang memikul. Alangkah
berat cobaan kelompok ini. Diri ini hanya dapat mendoakan semoga Allah
yang Maha Pengasih dan Penyayang, menurunkan hidayah kepada Pemerintah
Tiongkok dan memberikan kesabaran serta keistiqamahan kepada kelompok
ini.
Dulu umat Islam di Tiongkok ketika dibawah Dinasti Manchu
(1644-1911), pernah juga mengalami penindasan agama. Di provinsi Kansu,
Pemerintah Kerajaan melarang umat Islam naik haji dan membatalkan izin
pembangunan masjid. Akibatnya terjadi perlawanan hebat. Sekitar seribu
orang suku Salar melawan pejabat setempat. Perlawanan itu ditumpas oleh
tentara Kerajaan. Penumpasan ini berakibat perlawanan selanjutnya yang
lebih sengit.
Pada tahun 1862-1876, terjadi pembunuhan massal umat Islam di Desa
Tsinkia. Umat Islam dibunuh karena dituduh memotong bambu tanpa seizin
pejabat. Akibatnya umat Islam di seluruh distrik memberontak kepada
pemerintah. Provinsi Shensi menjadi bergejolak. Tentara Kerajaan
berhasil ditaklukan. Sehingga Kaisar Tong Chie memerintahkan pembinasaan
total penduduk muslim di Shensi. Akibat keputusan yang kejam ini, umat
Islam di Provinsi Kansu melawannya.
Sementara itu tentara Tiongkok yang ditempatkan di Kota Kuchang telah
membunuh umat Islam di kota itu dan sekitarnya. Pembunuhan massal telah
dilakukan oleh Tentara Kerajaan di beberapa desa dan kota. Berita ini
sampai ke telinga tentara umat Islam. Akibatnya sejumlah tiga puluh ribu
pasukan umat Islam melawan di Hami dan Urumchi, yang sekarang menjadi
Sinkiang. Tentara Kerajaan yang putus asa berhasil dikalahkan.
Jenderal-jenderal Tiongkok semakin ganas dan beringas. Mereka
membunuh setiap muslim yang dijumpainya dan menggrebek tiap desa kecil
umat Islam yang jatuh di tangan mereka. Namun, kekuatan tentara umat
Islam telah membuat Sinkiang menjadi daerah bebas. Tentara umat Islam
juga menyerang Kota Sianfu selama tiga tahun antara tahun 1867-1870
meski tidak sampai merebut kota itu.
Umat Islam berhasil mengalahkan sekitar dua ribu serdadu-serdadu
Tiongkok di Sinkiang. Umat Islam telah menguasai seluruh daerah utara
dan selatan dari pegunungan shan. Gubernur Tiongkok pun sampai bunuh
diri karena putus asa tidak mendapat bantuan militer dari ibukota
kerajaan.
Sejarawan Chin Yuan menyimpulkan bahwa “Semua pemberontakan umat
Islam yang terjadi selama abad yang terakhir ini di bagian utara dan
barat Tiongkok adalah akibat langsung tirani dan penindasan Manchu. Umat
Islam adalah rakyat yang taat kepada hukum. Apapun alasannya, umat
Islam tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas pemberontakan itu.”
[2]
Begitu sabar dan istiqamahnya umat Islam saat itu, meskipun mereka
mengalami penindasan yang kejam di bawah kekuasaan Manchu, akan tetapi
mereka tidak menyerah atau keluar dari agamanya. Padahal mereka sangat
menderita, namun tidak mau melepaskan keislaman dan kenasionalisannya.
Sejarah singkat ini setidaknya menjadi teladan bagi Kelompok Muslim
Uighur di Xinjiang serta mengingatkan pemerintah Tiongkok yang sekarang
bahwa umat Islam tidak akan diam dan tunduk ketika agamanya diberangus.
“Allah lah yang telah mengutus rasul-Nya dengan petunjuk dan
agama yang benar. Agar Islam menjadi agama yang mengalahkan agama-agama
lain. Cukup Allah sebagai saksi atas kebenaran Islam” (Al-Fath[48]:28)
Sumber Berita :
[1] http://dunia.news.viva.co.id/news/read/519523–mereka-ingin-menjauhkan-anak-kami-dari-islam-[2] M. Rafiq Khan diterjemahkan oleh Sulaimansjah S. H., Islam di Tiongkok, Jakarta: Tintamas, 1967, hlm. 12-16

Posting Komentar
Terimakasih atas komentar anda, kami akan melakukan moderasi sebelum komentar anda ditampilkan