Ahmad Dahlan juga mulai menyampaikan ide-ide
baru yang lebih mendasar, seperti persoalan arah kiblat salat yang
sebenarnya. Akan tetapi, ide baru ini tidak begitu saja bisa
dilaksanakan seperti yang diajarkan di serambi masjid besar karena
mempersoalkan arah kiblat salat merupakan suatu hal yang sangat peka
pada waktu itu. Ahmad Dahlan memerlukan waktu hampir satu tahun untuk
menyampaikan masalah ini. Itu pun hanya terbatas pada para ulama yang
sudah dikenal dan dianggap sepaham di sekitar Kampung Kauman. Pada satu
malam pada tahun 1898, Ahmad Dahlan mengundang 17 orang ulama yang ada
di sekitar kota Yogyakarta untuk melakukan musyawarah tentang arah
kiblat di surau milik keluarganya di Kauman.
Diskusi antara para ulama yang telah mempersiapkan diri dengan
berbagai kitab acuan ini berlangsung sampai waktu subuh, tanpa
menghasilkan kesepakatan. Akan tetapi, dua orang yang secara diam-diam
mendengar pembicaraan itu beberapa hari kemudian membuat tiga garis
putih setebal 5 cm di depan pengimaman masjid besar Kauman untuk
mengubah arah kiblat sehingga mengejutkan para jemaah salat dzuhur waktu
itu. Akibatnya, Kanjeng Kyai
Penghulu H.M. Kholil Kamaludiningrat memerintahkan untuk menghapus tanda tersebut dan mencari orang yang melakukan itu.
Sebagai realisasi dari ide pembenahan arah kiblat tersebut, Ahmad
Dahlan yang merenovasi surau milik keluarganya pada tahun 1899
mengarahkan surau tersebut ke arah kiblat yang sebenarnya, yang tentu
saja secara arsitektural berbeda dengan arah masjid besar Kauman.
Setelah dipergunakan beberapa hari untuk kegiatan Ramadhan, Ahmad Dahlan
mendapat perintah dari Kanjeng Penghulu untuk membongkar surau
tersebut, yang tentu saja ditolak. Akhirnya, surau tersebut dibongkar
secara paksa pada malam hari itu juga. Walaupun diliputi perasaan
kecewa, Ahmad Dahlan membangun kembali surau tersebut sesuai dengan arah
masjid besar Kauman setelah berhasil dibujuk oleh saudaranya, sementara
arah kiblat yang sebenarnya ditandai dengan membuat garis petunjuk di
bagian dalam masjid.
Setelah pulang dari menunaikan ibadah haji kedua, aktivitas
sosial-keagamaan Ahmad Dahlan di dalam masyarakat di samping sebagai
Khatib Amin semakin berkembang. Ia membangun pondok untuk menampung para
murid yang ingin belajar ilmu agama Islam secara umum maupun ilmu lain
seperti: ilmu falaq, tauhid, dan tafsir. Para murid itu tidak hanya
berasal dari wilayah Residensi Yogyakarta, melainkan juga dari daerah
lain di Jawa Tengah. Walaupun begitu, pengajaran agama Islam melalui
pengajian kelompok bagi anak- anak, remaja, dan orang tua yang telah
lama berlangsung masih terus dilaksanakan. Di samping itu, di rumahnya
Ahmad Dahlan mengadakan pengajian rutin satu minggu atau satu bulan
sekali bagi kelompok-kelompok tertentu, seperti pengajian untuk para
guru dan pamong praja yang berlangsung setiap malam Jum`at.
Pembentukan ide-ide dan aktivitas baru pada diri Ahmad Dahlan tidak
dapat dipisahkan dari proses sosialisasi dirinya sebagai pedagang dan
ulama serta dengan alur pergerakan sosial- keagamaan, kultural, dan
kebangsaan yang sedang berlangsung di Indonesia pada awal abad XX.
Sebagai seorang pedagang sekaligus ulama, Ahmad Dahlan sering melakukan
perjalanan ke berbagai tempat di Residensi Yogyakarta maupun daerah lain
seperti: Periangan, Jakarta, Jombang, Banyuwangi, Pasuruan, Surabaya,
Gresik, Rembang, Semarang, Kudus, Pekalongan, Purwokerto, dan Surakarta.
Di tempat-tempat itu ia bertemu dengan para ulama, pemimpin lokal,
maupun kaum cerdik cendekia lain, yang sama-sama menjadi pedagang atau
bukan.
Dalam pertemuan-pertemuan itu mereka berbicara tentang masalah
agama Islam maupun masalah umum yang terjadi dalam masyarakat, terutama
yang secara langsung berhubungan dengan kemunculan, kestatisan, atau
keterbelakangan penduduk Muslim pribumi di tengah- tengah masyarakat
kolonial. Dalam konteks pergerakan sosial keagamaan, budaya, dan
kebangsaan, hal ini dapat diungkapkan dengan adanya interaksi personal
maupun formal antara Ahmad Dahlan dengan organisasi seperti : Budi
Utomo, Sarikat Islam, dan Jamiat Khair, maupun hubungan formal antara
organisasi yang ia cirikan kemudian, terutama dengan Budi Utomo.
Secara personal Ahmad Dahlan mengenal organisasi Budi Utomo melalui
pembicaraan atau diskusi dengan Joyosumarto, seorang anggota Budi Utomo
di Yogyakarta yang mempunyai hubungan dekat dengan dr. Wahidin
Sudirohusodo, salah seorang pimpinan Budi Utomo yang tinggal di Ketandan
Yogyakarta. Melalui Joyosumarto ini kemudian Ahmad Dahlan berkenalan
dengan dr. Wahidin Sudirohusodo secara pribadi dan sering menghadiri
rapat anggota maupun pengurus yang diselenggarakan oleh Budi Utomo di
Yogyakarta walaupun secara resmi ia belum menjadi anggota organisasi
ini. Setelah banyak mendengar tentang aktivitas dan tujuan organisasi
Budi Utomo melalui pembicaraan pribadi dan kehadirannya dalam pertemuan
-pertemuan resmi, Ahmad Dahlan kemudian secara resmi menjadi anggota
Budi Utomo pada tahun 1909.
Dalam perkembangan selanjutnya, Ahmad Dahlan tidak hanya menjadi
anggota biasa, melainkan ia menjadi pengurus kring Kauman dan salah
seorang komisaris dalam kepengurusan Budi Utomo Cabang Yogyakarta.
Sementara itu, pada sekitar tahun 1910 Ahmad Dahlan juga menjadi anggota
Jamiat Khair, organisasi Islam yang banyak bergerak dalam bidang
pendidikan dan mayoritas anggotanya adalah orang-orang Arab.
Keterlibatan secara langsung di dalam Budi Utomo memberi pengetahuan
yang banyak kepada Ahmad Dahlan tentang cara berorganisasi dan mengatur
organisasi secara modern.
Sementara itu, walaupun Ahmad Dahlan tidak terlibat secara aktif di
dalam Jamiat Khair, selain belajar berorganisasi secara modern di
kalangan orang Islam, ia juga mendapat pengetahuan tentang kegiatan
sosial, terutama yang berhubungan dengan pendirian dan pengelolaan
lembaga pendidikan model sekolah. Semua ini tentu saja merupakan suatu
hal yang baru dan sangat berpengaruh bagi langkah-langkah yang dilakukan
Ahmad Dahlan pada masa selanjutnya, seperti pendirian sekolah model
Barat maupun pembentukan satu
organisasi.
Sebagai pengurus Budi Utomo, aktivitas Ahmad Dahlan tidak hanya
terbatas pada hal-hal yang berhubungan langsung dengan masalah
organisasi. Ia sering memanfaatkan forum pertemuan pengurus maupun
anggota Budi Utomo sebagai tempat untuk menyampaikan informasi tentang
agama Islam, bidang yang sangat ia kuasai. Kegiatan ini biasanya
dilakukan setelah acara resmi selesai. Kepiawaian Ahmad Dahlan dalam
menyampaikan informasi tentang agama Islam dalam berbagai pertemuan
informal itu telah menarik perhatian para pengurus maupun anggota Budi
Utomo yang sebagian besar terdiri dari pegawai pemerintah dan guru
sehingga sering terjadi diskusi yang menarik di antara mereka tentang
agama Islam.
Di antara pengurus dan anggota Budi Utomo yang tertarik pada
masalah agama Islam adalah R. Budiharjo dan R. Sosrosugondo, yang pada
saat itu menjabat sebagai guru di Kweekschool Jetis. Melalui jalur dua
orang guru ini Ahmad Dahlan mendapat kesempatan mengajar agama Islam
kepada para siswa Kweekschool Jetis, setelah kepala sekolah setuju dan
memberikan izin. Pelajaran agama Islam di sekolah guru milik pemerintah
itu diberikan di luar jam pelajaran resmi, yang biasanya dilakukan pada
setiap hari Sabtu sore.
Dalarn mengajarkan pengetahuan agama Islam secara umum maupun
membaca Quran, Ahmad Dahlan menerapkan metode pengajaran yang
disesuaikan dengan kemampuan siswa sehingga mampu menarik perhatian para
siswa untuk menekuninya. Tentu saja sebagian siswa merasa bahwa waktu
pelajaran agama Is1am pada hari Sabtu sore itu belum cukup. Oleh sebab
itu, beberapa orang siswa, termasuk mereka yang belum beragama Islam
sering datang ke rumah Ahmad Dahlan di Kauman pada hari Ahad untuk
bertanya maupun melakukan diskusi lebih lanjut tentang berbagai
persoalan yang berhubungan dengan agama Islam.
Dalam perkembangan selanjutnya, pengalaman berorganisasi di Budi
Utomo dan Jamiat Khair memberikan pelajaran kepada siswa Kweekschool dan
didukung oleh perkembangan pendapat masyarakat umum pada waktu itu yang
mulai menyadari bahwa pendidikan merupakan salah satu sarana yang
penting bagi kemajuan penduduk pribumi. Oleh karena itu, Ahmad Dahlan
secara pribadi mulai merintis pembentukan sebuah sekolah yang memadukan
pengajaran ilmu agama Islam dan ilmu umum. Dalam berbagai kesempatan
Ahmad Dahlan menyampaikan ide pendirian sekolah yang mengacu pada metode
pengajaran seperti yang berlaku pada sekolah milik pemerintah kepada
berbagai pihak, termasuk kepada para santri yang belajar di Kauman
maupun penduduk Kauman secara umum. Sebagian besar dari mereka bersikap
acuh tak acuh, bahkan ada yang secara tegas menolak ide pendidikan
sistem sekolah tersebut karena dianggap bertentangan dengan tradisi
dalam agama Islam.
Akibatnya, para santri yang selama ini belajar kepada Ahmad Dahlan
satu per-satu berhenti. Walaupun belum mendapat dukungan dari masyarakat
sekitarnya, Ahmad Dahlan tetap berkeinginan untuk mendirikan lembaga
pendidikan yang menerapkan model sekolah yang mengajarkan ilmu agama
Islam maupun ilmu pengetahuan umum. Sekolah tersebut dimulai dengan 8
orang siswa, yang belajar di ruang tamu rumah Ahmad Dahlan yang
berukuran 2,5 m x 6 m dan ia bertindak sendiri sebagai guru. Keperluan
belajar dipersiapkan sendiri oleh Ahmad Dahlan dengan memanfaatkan dua
buah meja miliknya sendiri. Sementara itu, dua buah bangku tempat duduk
para siswa dibuat sendiri oleh Ahmad Dahlan dari papan bekas kotak kain
mori dan papan tulis dibuat dari kayu suren.

Posting Komentar
Terimakasih atas komentar anda, kami akan melakukan moderasi sebelum komentar anda ditampilkan