Delapan orang siswa pertama itu merupakan santrinya yang masih
setia, serta anak-anak yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan
Ahmad Dahlan. Pendirian sekolah tersebut ternyata tidak mendapat
sambutan yang baik dari masyarakat sekitarnya kecuali beberapa orang
pemuda. Pada tahap awal proses belajar mengajar belum berjalan dengan
lancar. Selain ada penolakan dan pemboikotan masyarakat sekitarnya, para
siswa yang hanya berjumlah 8 orang itu juga sering tidak masuk sekolah.
Untuk mengatasi hal tersebut, Ahmad Dahlan tidak segan-segan datang ke
rumah para siswanya dan meminta mereka masuk sekolah kembali, di samping
ia terus mencari siswa baru. Seiring dengan pertambahan jumlah siswa,
Ahmad Dahlan juga menambah meja dan bangku satu per satu sehingga
setelah berlangsung enam bulan jumlah siswa menjadi 20 orang.
Ketika pendirian sekolah tersebut dibicarakan dengan anggota dan
pengurus Budi Utomo serta para siswa dan guru Kweekschool Jetis, Ahmad
Dahlan mendapat dukungan yang besar. Di antara para pendukung itu adalah
: Mas Raji yang menjadi siswa, R. Sosro Sugondo, dan R. Budiarjo yang
menjadi guru di Kweekschool Jetis sangat membantu Ahmad Dahlan
mengembangkan sekolah tersebut sejak awal.
R. Budiharjo yang bersama-sama Ahmad Dahlan menjadi pengurus Budi
Utomo Yogyakarta banyak memberikan Saran tentang penyelenggaraan sebuah
sekolah sesuai dengan pengalamannya menjadi kepala sekolah di
Kweekschool Jetis. Ia juga menyarankan kepada Ahmad Dahlan untuk meminta
subsidi kepada pemerintah jika sekolah yang didirikan itu sudah
teratur, dengan dukungan dari Budi Utomo. Selain itu, pendirian sekolah
itu juga mendapat dukungan dari kelompok terpelajar yang berasal dari
luar Kauman serta para siswa Kweekschool Jetis yang biasa datang ke
rumahnya pada setiap hari Ahad.
Sebagai realisasi dari dukungan Budi Utomo, organisasi ini
menempatkan Kholil, seorang guru di Gading untuk mengajar ilmu
pengetahuan umum pada sore hari di sekolah yang didirikan Ahmad Dahlan.
Oleh sebab itu, para siswa masuk dua kali dalam satu hari karena Ahmad
Dahlan mengajar ilmu pengetahuan agama Islam pada pagi hari. Walaupun
masih mendapat tantangan dari beberapa pihak, jumlah siswa terus
bertambah sehingga Ahmad Dahlan harus memindahkan ruang belajar ke
tempat yang lebih luas di serambi rumahnya.
Akhirnya setelah proses belajar mengajar semakin teratur, sekolah
yang didirikan oleh Ahmad Dahlan itu diresmikan pada tanggal 1 Desember
1911 dan diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Ketika
diresmikan, sekolah itu mempunyai 29 orang siswa dan enam bulan kemudian
dilaporkan bahwa terdapat 62 orang siswa yang belajar di sekolah itu.
Sebagai lembaga pendidikan yang baru saja terbentuk, sekolah yang
didirikan oleh Ahmad Dahlan memerlukan perhatian lebih lanjut agar dapat
terus dikembangkan. Dalam kondisi seperti itu, pengalaman Ahmad Dahlan
berorganisasi dalam Budi Utomo dan Jamiat Khair menjadi suatu hal yang
sangat penting bagi munculnya ide dan pembentukan satu organisasi untuk
mengelola sekolah tersebut, di samping kondisi makro pada saat itu yang
telah menimbulkan kesadaran akan arti penting suatu organisasi modern
maupun masukan yang didapat dari para pendukung, termasuk dari para
murid Kweekschool Jetis.
Salah seorang siswa kweekschool yang biasa datang ke rumah Ahmad
Dahlan pada hari Ahad, misalnya, menyarankan agar sekolah tersebut tidak
hanya diurus oleh Ahmad Dahlan sendiri melainkan dilakukan oleh suatu
organisasi supaya sekolah itu dapat terus berlangsung walaupun Ahmad
Dahlan tidak lagi terlibat di dalamnya atau setelah ia meninggal. Ide
pembentukan organisasi itu kemudian didiskusikan lebih lanjut dengan
orang-orang yang selama ini telah mendukung pembentukan dan pelaksanaan
sekolah di Kauman, terutama para anggota dan pengurus Budi Utomo serta
guru dan murid Kweekschool Jetis.
Dalam satu kesempatan untuk mendapatkan dukungan dalam rangka
merealisasi ide pembentukan sebuah organisasi, Ahmad Dahlan melakukan
pembicaraan dengan Budiharjo yang menjadi kepala sekolah di Kweekschool
Jetis dan R. Dwijosewoyo, seorang aktivis Budi utomo yang sangat
berpengaruh pada masa itu. Pembicaraan tersebut tidak hanya terbatas
pada upaya mencari dukungan, melainkan juga sudah difokuskan pada
persoalan nama, tujuan, tempat kedudukan, dan pengurus organisasi yang
akan dibentuk. Berdasarkan pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan
didapatkan beberapa ha1 yang berhubungan secara langsung dengan rencana
pembentukan sebuah organisasi.
Pertama, perlu didirikan sebuah organisasi baru di Yogyakarta.
Kedua, para siswa Kweekschool tetap akan mendukung Ahmad Dahlan, akan
tetapi mereka tidak akan menjadi pengurus organisasi yang akan didirikan
karena adanya larangan dari inspektur kepala dan anjuran agar pengurus
supaya diambil dari orang-orang yang sudah dewasa. Ketiga, Budi Utomo
akan membantu pendirian perkumpulan baru tersebut. Pada bulan-bulan
akhir tahun 1912 persiapan pembentukan sebuah perkumpulan baru itu
dilakukan dengan lebih intensif, melalui pertemuan-pertemuan yang secara
ekplisit membicarakan dan merumuskan masalah seperti nama dan tujuan
perkumpulan, serta peran Budi Utomo dalam proses formalitas yang
berhubungan dengan pemerintah Hindia Belanda.
Walaupun secara praktis organisasi yang akan dibentuk bertujuan
untuk mengelola sekolah yang telah dibentuk lebih dahulu, akan tetapi
dalam pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan selanjutnya tujuan
pembentukan organisasi itu berkembang lebih luas, mencakup penyebaran
dan pengajaran agama Islam secara umum serta aktivitas sosial lainnya.
Anggaran dasar organisasi ini dirumuskan dalam bahasa Belanda dan bahasa
Melayu, yang dalam penyusunannya mendapat bantuan dari R. Sosrosugondo,
guru bahasa Melayu di Kweekscbool Jetis.
Organisasi yang akan dibentuk itu diberi nama "Muhammadiyah", nama
yang berhubungan dengan nama nabi terakhir Muhammad SAW."' Berdasarkan
nama itu diharapkan bahwa setiap anggota Muhammadiyah dalam kehidupan
beragama dan bermasyarakat dapat menyesuaikan diri dengan pribadi Nabi
Muhammad SAW dan Muhammadiyah menjadi organisasi akhir zaman. Sementara
itu, Ahmad Dahlan berhasil mengumpulkan 6 orang dari Kampung Kauman,
yaitu: Sarkawi, Abdulgani, Syuja, M. Hisyam, M. Fakhruddin, dan M. Tamim
untuk menjadi anggota Budi Utomo dalam rangka mendapat dukungan formal
Budi Utomo dalam proses permohonan pengakuan dari Pemerintah Hindia
Belanda terhadap pembentukan Muhammadiyah.
Setelah seluruh persiapan selesai, berdasarkan kesepakatan bersama
dan setelah melakukan shalat istikharah akhirnya pada tanggal 18
November 1912 M atau 8 Dzulhijjah 1330 H persyarikatan Muhammadiyah
didirikan. Dalam kesepakatan itu juga ditetapkan bahwa Budi Utomo Cabang
Yogyakarta akan
membantu mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda
agar pembentukan Muhammadiyah diakui secara resmi sebagai sebuah badan
hukum. Pada hari Sabtu malam, tanggal 20 Desember 1912, pembentukan
Muhammadiyah diumumkan secara resmi kepada masyarakat dalam suatu
pertemuan yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, pejabat pemerintah
kolonial, maupun para pejabat dan kerabat Kraton Kasultanan Yogyakarta
maupun Kadipaten Pakualaman.
Pada saat yang sama, Muhammadiyah yang dibantu oleh Budi Utomo
secara resmi mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda
untuk mengakui Muhammadiyah sebagai suatu badan hukum. Menurut anggaran
dasar yang diajukan kepada pemerintah pada waktu pendirian, Muhammadiyah
merupakan organisasi yang bertujuan menyebarkan pengajaran agama Nabi
Muhammad SAW kepada penduduk bumiputra di Jawa dan Madura serta
memajukan pengetahuan agama para anggotanya. Pada waktu itu terdapat 9
orang pengurus inti, yaitu: Ahmad Dahlan sebagai kctua, Abdullah Sirat
sebagai sekretaris, Ahmad, Abdul Rahman, Sarkawi, Muhammad, Jaelani,
Akis, dan Mohammad Fakih sebagai anggota. Sementara itu, para anggota
hanya dibatasi pada penduduk Jawa dan Madura yang beragama Islam.
******
Sumber : www.muhammadiyah.or.id

Posting Komentar
Terimakasih atas komentar anda, kami akan melakukan moderasi sebelum komentar anda ditampilkan