MOMEN
Ramadhan yang bertepatan dengan suasana jelang Pilpres ini menjadi
waktu yang tepat bagi ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof
Dr Din Syamsudin MA untuk menyampaikan wejangan spiritual bagi warga
Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim).
Pada pembukaan Kajian Ramadhan 1435 H yang diadakan oleh Pimpinan
Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim di hall Dome Universitas Muhammadiyah
Malang (UMM), Sabtu (5/7), Din mengkaji tentang bagaimana membangun masa
depan, diri maupun bangsa, yang berbasis pada qalbun salim atau kejernihan hati sanubari.
Din memaparkan, istilah qolbun dalam akar kata bahasa Arab tidak bisa hanya dipahami sebagai hati dalam arti fisik saja. Untuk itu, Din membagi dua jenis qolbun atau hati, yaitu qolbun jasmaniyyun atau hati dalam arti fisiologis, yaitu jantung, dan qolbun ruhaniyyun atau
hati dalam arti spiritual, yang dalam al-Quran memiliki setidaknya lima
arti, yaitu hati yang bermakna kesadaran, akal pikiran, perasaan,
keyakinan, dan keinginan.
Dengan
demikian, bagi Din, hati adalah pusaran dari segala aktivitas manusia.
Tidak heran jika ada hadis yang menyebutkan bahwa dalam diri manusia
terdapat segumpal darah, yang jika gumpalan darah itu baik maka seluruh
jasad manusia ikut baik, dan jika gumpalan darah itu buruk maka seluruh
jasad manusia ikut buruk.
Bahkan, lanjut Din, dalam kamus bahasa Inggris, hati juga memiliki dua arti, yaitu physical heart yang merujuk makna hati secara fisiologis dan spiritual heart, yakni hati secara spiritual.
“Pemaknaan hati secara spiritual inilah yang lebih memiliki peran dalam
keseharian kita,” kata tokoh Muslim dunia yang juga ketua umum Majelis
Ulama Indonesia (MUI) ini.
Din menammbahkan, dalam konsep Islam, qolbun
juga dipahami sebagai sesuatu yang terbolak-balik. Hal itu ia pandang
sebagai fitrah lantaran hati manusia yang memang mudah naik turun dan
terombang ambing. “Itu sama halnya dengan akal pikiran manusia yang juga
fluktuatif, karena tergantung pada asupan ruhaninya,” terang Din.
Dengan
sifatnya yang mudah terbolak-balik itu, Din menekankan pentingnya
mengarahkan hati nurani pada kejernihan. “Itulah yang saya sebut sebagai
qolbun salim, yaitu kejernihan hati yang damai dan menenangkan,” ujarnya.
Secara filosofis, kata Din, qolbun salim
ini merupakan rekonstruksi diri menuju kemuliaan yang bersandar pada
sumbernya, yaitu Allah SWT. Hal itulah yang ia maknai sebagai ketauhidan
atau teosentrisme, yakni berpusat pada dimensi spiritual.
“Ini
juga berarti tidak menyandarkan diri sepenuhnya pada manusia atau
antroposentrisme, yang bisa menjebak kita pada penuhanan diri atau sifat
individualistik, penuhanan materi atau materialistik, maupun penuhanan
hawa nafsu atau hedonistik,” terang Din.
Din melanjutkan, menarik pula melihat jumlah kata qalbun dalam al-Quran, yang bentuk tunggalnya hanya disebut 17 kali, sementara bentuk jamaknya, yakni qulubun, disebut hingga 240 kali. “Hal itu menandai pentingnya pancaran hati dalam wujud kesadaran kolektif,” jelasnya.
Dalam konteks saat ini, Din menekankan, kesadaran kolektif itu mestinya
bisa hadir dalam hati sanubari bangsa. “Bentuk sederhananya adalah,
saat Anda memilih pada Pilpres nanti, maka tanyakan pada hatimu yang
jernih. Itulah qolbun salim. Salah satu caranya, bisa dengan shalat istikharah sebelumnya atau shalat dluha di pagi hari saat hendak memilih,” ujar Din.
Din juga mengingatkan agar bangsa ini tidak terjebak pada fanatisme
terhadap salah satu calon. Ia lantas membuat analogi dengan mengutip
hadis Rasulullah tentang cinta. “Cintailah kekasihmu sekadarnya saja,
boleh jadi kamu akan membencinya suatu ketika, dan bencilah musuhmu
sekadarnya saja, boleh jadi kamu akan mencintainya suatu ketika,” kutip
Din.
Tafsir politik dari hadis tersebut, kata Din, bagi pendukung salah satu
capres, agar tidak berlebihan mengagumi pilihannya, sebaliknya, agar
sekadarnya saja jika tidak menyukai capres yang lain.
Terkait posisi Muhammadiyah, Din menyebutkan bahwa ormas Islam yang
dipimpinnya ini harus menjadi wasit moral bagi bangsa. Untuk itu, ia
meminta warga Muhammadiyah berpijak pada qolbun salim, yakni
kebersihan dan kejernihan hati. “Itu harus. Tidak mungkin bangsa ini
dibersihkan dengan sapu yang kotor,” pungkas Din di hadapan ribuan
peserta Kajian Ramadhan yang memadati hall UMM Dome. (han)

Posting Komentar
Terimakasih atas komentar anda, kami akan melakukan moderasi sebelum komentar anda ditampilkan