BREAKING NEWS

Berita Pilihan

Berita Nasional

Berita Daerah

Senin, 07 Juli 2014

Din Syamsudin: Qolbun Salim Jernihkan Sanubari Bangsa

MOMEN Ramadhan yang bertepatan dengan suasana jelang Pilpres ini menjadi waktu yang tepat bagi ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsudin MA untuk menyampaikan wejangan spiritual bagi warga Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim).
      Pada pembukaan Kajian Ramadhan 1435 H yang diadakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim di hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (5/7), Din mengkaji tentang bagaimana membangun masa depan, diri maupun bangsa, yang berbasis pada qalbun salim atau kejernihan hati sanubari.
      Din memaparkan, istilah qolbun dalam akar kata bahasa Arab tidak bisa hanya dipahami sebagai hati dalam arti fisik saja. Untuk itu, Din membagi dua jenis qolbun atau hati, yaitu qolbun jasmaniyyun atau hati dalam arti fisiologis, yaitu jantung, dan qolbun ruhaniyyun atau hati dalam arti spiritual, yang dalam al-Quran memiliki setidaknya lima arti, yaitu hati yang bermakna kesadaran, akal pikiran, perasaan, keyakinan, dan keinginan.
      Dengan demikian, bagi Din, hati adalah pusaran dari segala aktivitas manusia. Tidak heran jika ada hadis yang menyebutkan bahwa dalam diri manusia terdapat segumpal darah, yang jika gumpalan darah itu baik maka seluruh jasad manusia ikut baik, dan jika gumpalan darah itu buruk maka seluruh jasad manusia ikut buruk.
      Bahkan, lanjut Din, dalam kamus bahasa Inggris, hati juga memiliki dua arti, yaitu physical heart yang merujuk makna hati secara fisiologis dan spiritual heart, yakni hati secara spiritual. “Pemaknaan hati secara spiritual inilah yang lebih memiliki peran dalam keseharian kita,” kata tokoh Muslim dunia yang juga ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.
      Din menammbahkan, dalam konsep Islam, qolbun juga dipahami sebagai sesuatu yang terbolak-balik. Hal itu ia pandang sebagai fitrah lantaran hati manusia yang memang mudah naik turun dan terombang ambing. “Itu sama halnya dengan akal pikiran manusia yang juga fluktuatif, karena tergantung pada asupan ruhaninya,” terang Din.
      Dengan sifatnya yang mudah terbolak-balik itu, Din menekankan pentingnya mengarahkan hati nurani pada kejernihan. “Itulah yang saya sebut sebagai qolbun salim, yaitu kejernihan hati yang damai dan menenangkan,” ujarnya.
      Secara filosofis, kata Din, qolbun salim ini merupakan rekonstruksi diri menuju kemuliaan yang bersandar pada sumbernya, yaitu Allah SWT. Hal itulah yang ia maknai sebagai ketauhidan atau teosentrisme, yakni berpusat pada dimensi spiritual.
      “Ini juga berarti tidak menyandarkan diri sepenuhnya pada manusia atau antroposentrisme, yang bisa menjebak kita pada penuhanan diri atau sifat individualistik, penuhanan materi atau materialistik, maupun penuhanan hawa nafsu atau hedonistik,” terang Din.
      Din melanjutkan, menarik pula melihat jumlah kata qalbun dalam al-Quran, yang bentuk tunggalnya hanya disebut 17 kali, sementara bentuk jamaknya, yakni qulubun, disebut hingga 240 kali. “Hal itu menandai pentingnya pancaran hati dalam wujud kesadaran kolektif,” jelasnya.
      Dalam konteks saat ini, Din menekankan, kesadaran kolektif itu mestinya bisa hadir dalam hati sanubari bangsa. “Bentuk sederhananya adalah, saat Anda memilih pada Pilpres nanti, maka tanyakan pada hatimu yang jernih. Itulah qolbun salim. Salah satu caranya, bisa dengan shalat istikharah sebelumnya atau shalat dluha di pagi hari saat hendak memilih,” ujar Din.
      Din juga mengingatkan agar bangsa ini tidak terjebak pada fanatisme terhadap salah satu calon. Ia lantas membuat analogi dengan mengutip hadis Rasulullah tentang cinta. “Cintailah kekasihmu sekadarnya saja, boleh jadi kamu akan membencinya suatu ketika, dan bencilah musuhmu sekadarnya saja, boleh jadi kamu akan mencintainya suatu ketika,” kutip Din.
      Tafsir politik dari hadis tersebut, kata Din, bagi pendukung salah satu capres, agar tidak berlebihan mengagumi pilihannya, sebaliknya, agar sekadarnya saja jika tidak menyukai capres yang lain.
      Terkait posisi Muhammadiyah, Din menyebutkan bahwa ormas Islam yang dipimpinnya ini harus menjadi wasit moral bagi bangsa. Untuk itu, ia meminta warga Muhammadiyah berpijak pada qolbun salim, yakni kebersihan dan kejernihan hati. “Itu harus. Tidak mungkin bangsa ini dibersihkan dengan sapu yang kotor,” pungkas Din di hadapan ribuan peserta Kajian Ramadhan yang memadati hall UMM Dome. (han)

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar anda, kami akan melakukan moderasi sebelum komentar anda ditampilkan

 
Copyright © 2014 Muhammadiyah Demi Ummat
Creatif Design by CahKreatif . Powered by Blogger